Rabu, 24 Agustus 2016

MISIONARIS PERTAMA DI TANAH BATAK..?




Misionaris Nestorian di Barus

Jauh sebelum Samuel Munson dan Henry Lyman  masuk ke Sumatera Utara pada 17 Juni 1834, yakni di Sibolga, Misionaris Nestorian sudah terlebih dahulu tiba, yaitu di Barus kecamatan terpencil di Sumatera Utara sebagai tempat masuknya Kristen Nestorian abad ke-6, tepatnya tahun 645.

Menurut Van Den End dalam bukunya: Harta Dalam Bejana, memaparkan bahwa kengiatan pekabaran Injil oleh Gereja Nestorian meliputi seluruh Asia. Sebelum kedatangan Islam, orang-orang Kristen telah menyiarkan Injil ke Arabia,  ke India, ke Asia Tengah dan malahan ke Tiongkok. Penyiaran Agama Kristen itu terutama berlangsung melalui jalan-jalan dagang.

Pekabar Injil Nestorian mengikuti jalur perdagangan (Asia dari barat ke Timur, dari Messopotamia lewat kota Siberia Selatan). Jalur lain: pelabuhan teluk Persia, India Barat dan Selatan, Srilanka, Tiongkok Selatan. Di sepanjang jaan dagang ini terdapat jemaat2 yg terdiri dari pedagang2 Nestorian, sdgkn yg mengabarkan Injil ialah para rahib.

Jalur perdagangan ke arah Selatan dan pantai timur semenanjung Arabia (Qatar dan Oman), Etiopia, dan India. Thn 345 pedagang bernama Thomas dgn 400 org Kristen lainnya dari Persia dtg ke Cranganore, mendirikan Gereja Mar Thoma (kini bergabung dgn aliran Yakobit/Monofisit, sebagian masuk ke Katolik).
Pada abad ke-6 ada jemaat Srilanka, mungkin ada pedagang-pedagang Nestorian yg dari India berlayar ke Sumatera (di Barus abad ke-7).

Pada waktu itu Barus sudah merupakan pusat perdagangan. Saat Abu Salih al-Armini menulis sebuah karangan bahwa kamper berasal dari Barus. Dalam buku itu dijelaskan jauh sebelum pedagang Timur-Tengah datang ke Barus sudah ada orang-orang Nestorian. Hal itu juga tertulis di buku Kitab Nazm al-Jawhar karangan Sa’idah al Batriq menyebutkan di abad ke-7 sudah jemaat Nestorian di Barus. Peryataan itu juga diperkuat dengan ditemukannya sebuah salib Nestorian.

Lain lagi laporan dari naskah-naskah kuno Nestorian tentang Keuskupan di Dabag yaitu wilayah Jawa dan Sumatera Selatan selain di Barus dekat Sibolga, Sumatera Utara. Abad ke-14 Giovanni De Marignolli dari Italia menemukan orang-orang Kristen yang berbudaya non-Eropa (Arab) di Majapahit dan Sriwijaya. Ada jemaat Nestorian yang masih melakukan sembayang ala Nestorian.

Sementara dalam buku Sejarah Perjumpaan Kristen dan Muslim di Indonesia, yang ditulis Prof.  Jan S. Aritonang menyebutkan, jauh sebelum perjumpaan agama Islam di Indonesia sudah ada Kristen Nestorian bersumber dari Khaldea/Syria dan Persia. Tetapi jejak Nestorian di Barus dipastikan tidak berakar, tidak pernah tumbuh.

Sedangkan Munson dan Lyman pada 17 Juni 1834 (misionaris dari American Baptist missionary) tiba di Tanah Batak untuk pertama kalinya, yakni Sibolga. Tuan Bonnet, seorang pejabat Belanda, menyambut mereka dengan hangat. Dia bahkan memberikan perlengkapan untuk keberangkatan mereka selanjutnya ke arah Silindung.

Samuel Munson lahir tanggal 23 Maret 1804 di New Sharser Maine, sedang Henry Lyman lahir tanggal 23 November 1809 di Northhampton, Amerika Serikat. Setelah tamat dari sekolah pendeta di Androver tahun 1832 dan menikah pada tahun 1833, mereka dipersiapkan sebagai missionaris menyebarkan berita Injil ke Tanah Batak.
Dalam perjalanan, Munson dan Lyman disertai beberapa orang pendamping. Rombongan kecil ini berangkat pada tanggal 23 Juni 1834, menembus belantara, lembah, dan pegunungan yang bergelombang, selama 6 hari.

Ketika sampai di kampung Raja Suasa, Pendeta Munson dan Lyman menerima saran dari Raja Suasa agar mereka menginformasikan lebih dulu kedatangannya di Silindung. Saat itu, suasana di Rura Silindung (sekarang Kota Tarutung) memang masih diwarnai kemelut akibat akses dari Perang Bonjol. Namun Munson dan Lyman memilih menghemat waktu agar segera tiba di Silindung.
Keturunan Raja Siopat Pisoran adalah penghuni terbesar kawasan Rura Silindung. Ketika Munson dan Lyman tiba di Puncak Lobu Sisakkap, Raja Panggalamei dan pengikutnya langsung menduga bahwa mereka adalah bagian dari rencana awal Pemerintah Belanda yang ingin menguasai Tanah Batak. Setelah penangkapan, terjadilah komunikasi yang tidak saling memahami. Raja Panggalamei, membunuh  Munson dan Lyman.

Kedua versi tersebut tentu saja masih membutuhkan penelitian yang lebih rinci agar Sejarah Batak dapat didudukkan pada porsi yang sebenarnya. Bonnet sendiri, seusai menerima kisah Jan, menyimpulkan bahwa Munson dan Lyman telah mati martir saat menjalankan misi suci di Lobu Pining Adiankoting. Bagi orang Batak Kristen masa kini, kematian mereka adalah pengorbanan besar dalam misi keagamaan terhadap Tanah Batak yang masyarakatnya saat itu masih menganut sipelebegu. Masyarakat Batak Kristen mengenangnya sebagai pendeta yang berjasa pada misi kekristenan di Tapanuli. Sebuah monumen kini dibangun di tengah perladangan yang sepi di Lobu Pining, Kecamatan Adiankoting, di mana tulang belulang mereka dikebumikan. Monumen itu sekitar 20 km dari Kota Tarutung ke arah Sibolga.

Sumber Buku:
Prof.  Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Muslim di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Van Den End, Harta Dalam Bejana. Jakarta: BPK Gunung Mulia.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar