Sabtu, 08 Agustus 2015

Teologi Perjanjian



TEOLOGI PERJANJIAN DALAM ALKITAB
Oleh: Junior Natan Silalahi

Perjanjian
Diangkat dari kata Ibrani berit, diterjemahkan sebagai perjanjian atau covenant yang artinya membangun situasi atau hubungan legal dan formal yang dibuktikan dan diteguhkan dengan sumpah. Secara teologis, berit digunakan untuk mengungkapkan perjanjian antara Allah dengan manusia. Contoh: perjanjian Allah dengan Abraham (Kej 12:1-3); perjanjian Allah dengan para imam (Bil 25:12-13), perjnjian Allah dengan Daud (2 Sam 23:5), dan Perjanjian Baru (Yes 31:31-33).

Progressive Revelation
Penyataan-penyataan wahyu Allah disingkapkan secara bertahap dari satu periode ke periode yang lainnya dalam Alkitab. Misalnya darah korban binatang dalam PL sebagai penutup dosa disempurnakan oleh darah Kristus penghapus dosa mutlak (Ibr 7-9).
                         
Perjanjian Adam
Perjanjian Adam ditandai dengan Kejadian 3:15 disebut sebagai protoevangelium, artinya proklamasi Injil yang pertama. Hubungan antara janji dalam Kej 3:15 dengan Kristus semakin diperjelas dengan unsur darah yang dicurahkan oleh Allah untuk menyelubungi Adam dan Hawa (Kej 3:21).

Perjanjian Nuh
Nuh dan keluarganya dikhususkan Tuhan untuk meneruskan berkat ilahi yang pernah dijanjikan Tuhan kepada Adam melalui misi protoevangelium. Allah akan memelihara bumi dan tidak lagi menghukum dengan air bah. Janji tersebut diteguhkan melalui bukti alami, yaitu busur Allah di lamgit (Kej 9:11-15).

Perjanjian Abraham
Allah membangun sebuah bangsa yang akan membawa pemulihan bagi seluruh dunia berdasarkan perjanjian penting yang sekaligus merupakan perjanjian sentral bagi perjanjian selanjutnya (Kej 12:1-3). Diperluas dalam pasal 13:14-17 dan disahkan dalam pasal 15:1-7, dilengkapi dengan lambang memlaui tanda sunat (17:1-8).
Terdapat dua karakter perjanjian Abraham: pertama conditional covenant (perjanjian bersyarat) tergantung kesetiaan dan ketaatan untuk mentaati. Misalnya Yosua dan kaleb memasuki tanah Kanaan karena ketaatannya (Bil 14:38; Ul 1:35-38). Kedua, unconditional covenant artinya penggenapan ditentukan oleh pihak pertama yaitu Allah sendiri tanpa dipengaruhi atau bergantung pada karakter moral dan ketaatan pihak kedua yang menerima perjanjian itu. Contoh janji Tanah Kanaan kepada bangsa Israeil tidak pernah batal karena dosa. Pemberian kerajaan Syalom yang dijanjikan kepada Daud.
Empat berkat dalam perjanjian Abraham: pertama berkat individu (nama baru, harta melimpah). Kedua, berkat teritorial (Kej 12:7) penuh susu dan madu (Kel 3:8). Ketiga, berkat nasional (Kej 12:2) Abraham sebagai bapa bagi sejumlah besar umat di dunia, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Namun secara spesifik janji tersebut terlihat dalam perjanjian kepada Daud dan keturunannya (2 Sam 7:11, 13, 16; Yer 31:35-37; 33:20-21). Keempat berkat rohani (Kej 12:3; 22:18). Allah menetapkan bahwa benih Abraham, Kristus, akan membawa berkat dan pemulihan secara rohani.

Perjanjian Musa
Dikenal dengan nama Perjanjian Sinai (Kel 19-24). Allah melalui Musa mendirikan negara yang bersifat suci yaitu Teokrasi Israel. Kerajaan ini merupakan model Kerajaan Allah di masa depan. Perjanjian Musa dipimpin oleh Allah dengan Hukum Taurat sebagai konstitusi ideologi bertujuan untuk membangkitkan penyembahan manusia kepada Allah yang benar (1 Sam12:12). Perjanjian Musa berakhir dengan ditandai oleh periode keimaman suku Lewi yang kemudian digantikan oleh keimaman Kristus dengan sistem keimaman yang baru (Ibr 2:17; 1 Pet 2:2-10).

Perjanjian Palestina
Pengulangan dari perjanjian Abraham dan Musa, khusus unrtuk memberikan tanah yang luas dan kaya bagi Israel sebagai benih Abraham.



Perjanjian Daud
Meliputi 3 hal, yaitu: Tuhan akan membuat nama Daud menjadi besar ( 2 Sam 7:9; 8:13); Tuhan menetapkan sebuah tempat yang pasti bagi Israel (2 Sam 7:10; 8:1-14); dan Tuhan membuat Daud dan tanahnya aman dari serangan musuh (2 Sam 7:11; 8:1-14; 1 Raj 5:4-5). Perjanjian tentang dinasti (2 Sam 7:11b) merupakan inti perjanjian Daud, namun direalisasikan oleh Salomo. Terdapat 5 fakta eskatologi implikasi dari perjanjian Daud, pertama Israel tampil sebagai bangsa di masa mendatang. Kedua, Allah mengembalikan tanah warisan nenek moyang mereka. Ketiga, Putra daud, Yesus Kristus, harus datang ke bumi dengan tubuh fisik dan literal memerintah dalam kerajaan yang dijanjikan kepada Daud. Keempat, kerajaan yang didirikan oleh Anak Daud tersebut bersifat literal, yakni pemerintahan yang berlangsung di bumi. Kelima, kerajaan yang dijanjikan kepada Daud itu kekal adanya karena bersifat tanpa syarat.

Perjanjian Baru
Perjanjian Baru menuntut pengorbanan sempurna Yesus Kristus yang menjadi pusat seluruh rencana penebusan kekal. Memiliki beberapa aspek: pertama aspek soteriologis (penebusan dan penyelamatan), kedua aspek ibadah dan peyembahan (Yeh 37:26-27), ketiga aspek perdamaian (Hos 2:17), keempat aspek kemakmuran (Yer 32: 42-44). Semua aspek di atas dilandasi oleh kematian Kristus (Za 9:11; Ibr 13:10-16). Perjanjian Baru adalah kekal (Yes 61:8; Yer 31:36; 32:40; 50:5). Perjanjian Baru merupakan perjanjian penebusan dan penyelamatan yang akan direalisasikan bagi Israel di masa depan setelah gereja dibentuk. Lahirnya gereja tidak akan membatalkan perjanjian baru dan gereja tidak menggenapi perjanjian baru tetapi perjanjian tersebut akan digenapi oleh Israel ketika Kristus datang kedua kali di bumi.

Buku-buku yang dipakai sebagai sumber:
  1. Berkhof, Louis, Teologi Sistematika 1 (Doktrin Manusia), Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1993
  2.  H. Bavinck, Prolegomena, Jakarta: Momentum.
  3. Ryrie, Charles C. Teologi Dasar, Yogyakarta: Yayasan Andi, 1986
  4. R. Soedarmo, R., Ikhtisar Dogmatik, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993
  5. Thiessen, Henry C., Teologi Sistematika, Malang: Penerbit Gandum Mas, 1977



1 komentar:

  1. syalom bapak saya mau tanya apakah manusia bebas dari ikatan dosa dan menyatakan pembenaran bagi orang percaya?

    BalasHapus