Sabtu, 08 Agustus 2015

RAPTURE (Kebangkitan dan Pengangkatan Gereja)



RAPTURE
(Kebangkitan dan Pengangkatan Gereja)
Oleh: Junior Natan Silalahi

Pengangkatan gereja sangat berhubungan dengan ajaran kedatangan Kristus yang kedua. Secara terminologis, kedatangan Yesus kedua ke dunia berasal dari istilah Yunani parousia yang berarti “kedatangan” atau “penampakan”, sebagaimana dicatat dalam 1 Tes 4:15. Kata parousia berasal dari kata para yang artinya “dengan’, dan ousia, yang artinya “ada” (dari eimi). Dengan demikian, dua kata tersebut berarti “kedatangan” atau “hadir bersama”.
Helenisme (Yunani) menggunakan parousia untuk menjelaskan “kunjungan seorang raja” atau “kehadiran para dewa”.  Kata yang sakral dalam filsafat. Dalam PL atau Septuaginta (LXX), kata tersebut dipakai untuk menjelaskan gagasan tentang “kedatangan Allah secara langsung” guna membuktikan diri-Nya kepada manusia (Yes 63:4), atau untuk menyatakan “kehadiran Allah dalam sejarah” (Kel 15:18), atau untuk menunjukkan “kedatangan Mesias” (Dan 7:13). Yudaisme Palestina menggunakan kata parousia sehubungan dengan adanya “pengharapan akan kedatangan Allah” dan “pengharapan akan Mesias”.
Sementatra itu, Yudaisme Helenistis yang diwakili oleh Yosefus (kecuali Philo) menggunakan kata parousia untuk menjelaskan “kehadiran Allah untuk menolong”. Di dalam PB, kata tersebut digunakan untuk menerangkan gagasan tentang “kedatangan Kristus yang kedua”, yakni mendirikan Kerajaan Allah. Istilah parousia 24 kali dalam PB umumnya menjelaskan tentang kedatangan Kristus yang kedua. Kedatangan Kristus tersebut meliputi peristiwa pengangkatan gereja (rapture) dan kedatangan-Nya ke bumi secara fisik bersama umat-Nya untuk memerintah dalam Kerajaan Damai selama seribu tahun.

Tanda Kedatangan Kristus
Kata “seruan” dalam 1 Tes 4:16 diterjemahkan dari kata benda keleusmati. Berasal dari kata kerja keleuo, yang artinya “memerintahkan” atau memberikan komando”. Gagasan ini sering digunakan dalam dunia militer untuk menyerukan semangat kemenangan perang. Leon Moris menjelaskan hal itu menunjuk pada seruan keras dari Tuhan untuk membangkitkan orang mati (Yoh 5:25, 28). Sedangkan, “suara malaikat” dan “terompet Allah” dalam ayat tersebut menerangkan dua hal yang sama, ayitu bahwa suara tersebut menyerupai bunyi terompet (Why 1:10). Dalam PL, terompet menekankan pada aktivitas ilahi (Kel 19:16; Yes 27:13). Pada konteks ini, dalam ayat tsb diapakai untuk menuturkan karya ilahi Kristus yang supernatural dalam mengangkat gereja-Nya ke sorga melalui peristiwa rapture.
Keleusmati merujuk pada penyataan Yesus dalam Yoh 5:25-29, yang menubuatkan bahwa orang-orang yang mati akan dibangkitkan ketika mendengar suara-Nya. Sedangkan suara malaikat dan terompet itu merupakan suara Michael. Istilah archangelou dalam 1 tes 4:16nyang diterjemahkan dengan “malaikat penting” bersifat tunggal. Istilah ini hanya terjadi satu kali dalam bagian lain PB dan itu mengacu pada Michael (Yud 9). Willmington menyimpulkan bahwa pada peristiwa rapture, Tuhan sendiri yang datang dengan suara yang nyaring diiringi dengan suara penghulu malaikat dan bunyi sangkakala Allah. Semua itu merupakan kejadian terakhir dari tiga peristiwa yang di dalamnya Kristus berseru dan menyebabkan bangkitnya orang mati (Mat 27:50-53; Yoh 11:43-44; 1 tes 4:16).

Pertemuan Di Angkasa
Perjumpaan Kristus dengan gereja-Nya secara pasti akan terjadi di angkasa, bukan di bumi atau di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh indera manusia (1 Tes 4:17), kata nephelais yang berarti “awan”, di dalam awan. Sebab itu, Paulus dalam 1 tes 5:16-17 telah memperlihatkan adanya fakta tentang penyatuan orang-orang percaya yang dibangkitkan dengan jemaat yang masih hidup yang diubahkan supaya mereka dapat diangkat bersama-sama  ke tempat yang jelas dan pasti, yakni di angkasa untuk menyongsong Sang Mesias.

Pemberian Tubuh baru bagi Jemaat
Dalam peristiwa rapture, Kristus akan memberikan tubuh yang baru kepada setiap orang percaya, seperti tubuh-Nya yang mulia (Fil 3:20-21; 1 Yoh 3:2). Tubuh baru yang memungkinkan hidup bersama Kristus di sorga (1 Kor 15:48-54). Istilah “mengubah” dalam Flp 3:21 adalah dari kata metaskhematizo. Istilah ini dibangun dari kata skhema , yang artinya bentuk penampilan alami yang memiliki sifat-sifat insani (Flp 2:7). Dalam ayat yang sama, kata “serupa” diterjemahkan dari istilah symmorphos, yakni istilah yang berasal dari kata morphe, yang berarti bentuk penampilan ilahi yang memiliki sifat-sifat supernatural (Flp 2:6), dan biasanya digunakan utnuk Kristus guna menyatakan dan memperlihatkan seluruh kemuliaan Allah Bapa yang ada di dalam diri-Nya.
Menurut 1 Kor 15:42-43, tubuh kemuliaan akan tampil dengan sifat dan kualitas ilahi yang sempurna. Pertama, tubuh itu tidak binasa. Kedua, tubuh kemuliaan bersifat mulia (tanpa dosa). Ketiga, memiliki ketahan yang sangat kuat, kelemahan akibat penyakit, kelemahan, kelumpuhan, penuaan tidak dialami lagi. Tidak takluk dan tidak dibatasi oleh ruang, waktu, dan jarak.  (bnd Yoh 20:26).

Tubuh Baru bagi Gereja
Dalam 1 Kor 15:51 menerangkan gagasan ganda, yaitu fakta tentang kebangkitan orang mati dan pengubahan tubuh bagi orang yang masih hidup. Tindakan Kristus dalam menyatukan jiwa orang percaya dengan tubuh yang sudah diubahkan. Pada saat Kristus datang di angkasa orang-orang yang mati di dalam Kristus akan lebih dahulu dibangkitkan dengan tubuh yang baru dan mulia. Sesudah itu, orang-orang yang masih hidup akan diubah atau diberikan tubuh baru dalam waktu sekejab mata. Selanjutnya, semua orang percaya yang telah mengenakan tubuh kemuliaan tersebut akan diangkat bersama-sama dengan orang-orang yang telah dibangkitkan dengan tubuh baru untuk bertemu dengan Tuhan di angkasa dan hidup bersama dengan Kristus selama-lamanya (1 Tes 4:16-17).

Kedatangan-Nya Secara Tiba-tiba
Dalam 1 Tes 5:2-3 diinformasikan bahwa “hari Tuhan”, yaitu kedatangan Kristus sesungguhnya akan terjadi secara “tiba-tiba”. Seperti pencuri yang datang pada malam hari yang tidak terduga (Mat 24:43), dan juga pernah Petrus dan Yohanes ajarkan (2 Pet 3:10; Why 3:3; 16:15). Kedatangan Kristus ditetpkan menurut keputusan ilahi dan kedaulatan Bapa di sorga yang tidak dapat dipahami oleh siapapun (Mat 24:36).

Pengangkatan Gereja sebelum Tribulasi
Alkitab menyatakan bahwa Tuhan telah berjanji dan menjamin secara pasti bahwa jemaat-Nya akan diangkat ke angkasa sebelum murka yang menyala-nyala itu terjadi (Rm 5:9; 1 Tes 1:10; 5:9-10; Why 3:10) sehingga gereja terhindar dari malapetaka itu. Ada 4 argumen utama yang dapat diberikan guna membuktikan keyakinan tersebut: Pertama, argumentasi kontekstual, yaitu ketika Paulus mengkonfirmasikan berita pengharapan mengenai kepastian kedatangan Kristus untuk mengangkat gereja-Nya (1 Tes 4:13-18). Apabila tribulasi tiba, gereja sudah diangkat sebelumnya (1 Tes 4:16-17; 5:9-10) sehingga jemaat tidak akan masuk ke dalam kesengsaraan itu. Kedua, argumentasi teologis, yaitu konsep soteriologi yang Paulus munculkan dalam 1 Tes 5:9-10 secara tegas menyatakan bahwa karena kasih anugerah Allah yang begitu besar kepada gereja-Nya Tuhan tidak “menetapkan” umat-Nya untuk masuk ke dalam dan mengalami masa kesusahan itu. Murka dan maut tidak diizinkan menguasai gereja. Ketiga, argumentasi gramatika, memperlihat adanya komitmen Allah Yang Mahakuasa dan Mahakasih untuk membebaskan gereja dari masa kesusahan (Why 3:10).mengeluarkan jemaat dari masa kesusahan itu sebelum waktunya tiba. Keempat, argumentasi tujuan tribulasi. Alkitab menjelaskan bahwa tribulasi adalah masa kesusahan bagi bangsa Israel (Dan 12:1-2; Yer 30:7).  Tidak dimaksudkan untuk gereja. Kesusahan itu bertujuan untuk mempersiapkan Israel dan bangsa yang lain untuk bertobat.

Pengangkatan Gereja ke Sorga
Gereja tidak berhenti di angkasa setelah diangkat melalui peristiwa rapture. Setelah selesai menyediakan tempat di rumah Bapa Dia akan kembali untuk membawa jemaat-Nya ke sorga (Yoh 14:1-3). Sesudah pertemuan di angkasa gereja akan menghadap tahta pengadilan Kristus di sorga (Rm 14:10; 2 Kor 5:10). Sidang pengadilan dilakukan di sorga sebab tahta-Nya berada di tempat kudus (Maz 11:4; 103:19; Why 3:21; 4:2). Tahta pengadilan Kristus (bema) berada di sorga, tempat setiap orang Kristen akan menghadap tahta pengadilan tersebut setelah gereja diangkat (1 Tes 4:17). Karenanya, ketika masih di bumi orang percaya diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengumpulkan harta kekal di sorga (Mat 6:20).

Bema
Merupakan pengadilan Kristus bagi setiap orang percaya di sorga (2 Kor 5:10). Bema berasal dari bahasa Yunani yang berarti “kursi pengadilan”. Di dalam dunia klasik, berarti sebuah panggung tempat seseorang pembicara berpidato atau pengadilan tempat seorang hakim mengadili suatu perkara. Dalam LXX digunakan sebagai standar dari suatu keputusan (Ul 2:5), dan menunjuk pada sebuah panggung tempat Ezra membacakan Hukum Taurat bagi bangsa Israel. Dalam PB merupakan panggung tempat seorang raja duduk di atas tahta untuk melaksanakan pengadilan (Mat 27:19; Yoh 19:13; Kis 12:21; 18:12, 16, 17; 25:6, 10, 17). Paulus menggunakan istilah bemasebanyak 2 kali untuk menjelaskan pengadilan Tuhan atas gereja (Rm 14:10; 2 Kor 5:10). Untuk menerima hadiah atau upah.
Menurut Alkitab ada 5 mahkota:       
Pertama, mahkota abadi: mempertahankan kekudusan hidup (1 Kor 9:26).
Kedua, mahkota kemegahan: tekun dalam panggilan pelayanan untuk memenangkan jiwa bagi Kristus (1 Tes 2:19).
Ketiga, mahkota kebenaran: senantiasa menantikan kedatangan Kristus yang kedua dengan penuh iman (2 Tim 4:8).
Keempat, mahkota kehidupan: setia melayani dan memuliakan Yesus, bertahan dalam pencobaan (Yak 1:12).
Kelima, mahkota kemuliaan secara khusus kepada para gembala yang tekun dalam tugas penggembalaan jemaat (1 Pet 5:4).
Semua mahkota yang dijelaskan di atas adalah jenis mahkota yang dalam bahasa Yunani disebut stephanos yang artinya mahkota. Mahkota Yesus disebut diadema yang juga berarti mahkota (Why 19:12).

Perkawinan Anak Domba
Gereja adalah tunangan Kristus (2 Kor 11:2) dan mempelai perempuan dari kepala gereja, yaitu Yesus (Ef 5:23-27). Akan diadakannya perayaan yang luarbiasa di sorga, di mana jemaat-Nya akan disambut oleh Kristus dalam kemegahan dan kemuliaan sebagai pengantin suci (Why 19:7). Ajakan kepada seluruh isi sorga untuk bersukacita atas perkawinan agung tersebut serta memuliakan Kristus yang duduk di tahta-Nya. Pesta ilahi yang mulia itu akan terjadi setelah Kristus menjemput gereja-Nya sebagai mempelai wanita melalui rapture dan sesudah itu membawanya ke rumah Bapa di sorga (Yoh 14:1-3).
Menurut Alkitab, kegembiraan ini tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata terjadi di sorga. Sebelum pesta mulia digelar, telah tampil terlebih dahulu sebuah paduan suara raksasa yang terdiri dari himpunan besar orang percaya di sorga yang menyanyikan pujian agung berjudul Haleluyah untuk mengelu-elukan dan mengagungkan Kristus, Sang Raja yang berada di tahta-Nya (Why 19:1-5). Nyanyian penghormatan yang sama terus-menerus dikumandangkan dan menjadi pengantar untuk masuk ke dalam suasana mulia, yakni Pesta Anak Domba Allah (Why 19:6).

KESIMPULAN
Ciri khas dari peristiwa Eskatologis (Akhir Zaman) yaitu Peniupan Sangkakala. Dlm 1 Tes 4:16 diterjemahkan dr kt benda 'keleusmati', dari kata kerja 'keleuo' artinya memerintahkan/memberikan komando. Mennjuk pada seruan keras dari Tuhan untuk membangkitkan orang mati (Yoh 5:25, 28). Suara malaikat & terompet itu merupakan suara Michael (archangelou). Pada peristiwa rapture, Tuhan sendiri yang datang dengan suara yang nyaring diiringi dengan suara penghulu malaikat dan bunyi sangkakala Allah. Kejadian yg baru-baru ini terjadi di 4 negara Eropa, belum bisa dipastikan sebagai tanda Alkitabiah, alasannya adalah peristiwa baru-baru ini hanya bersifat LOKAL, sadangkan bunyi Sangkakala Eskatologis Alkitabiah bersifat UNIVERSAL/GLOBAL (bnd. Mat 24:30-31). Tapi yang lebih penting dari semua itu adalah persiapkan diri menyambut kedatangan-NYA. Ready or not Jesus coming..!

SUMBER:
1.      Enns, Paul. The Moody Handbook of Theology. Yayasan Andi.
2.      Gutthrie, Donald. Teologi Perjanjian Baru 3 bag. Eskatologi. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.
3.      Hadiwijono, Harun. Iman Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997.
4.      Pandensolang, Welly. Eskatologi Biblika. Yogyakarta: Yayasan Andi, 2008.
5.      Ryrie. Charles C. Teologi Dasar 2 Bag. Eskatologi. Yogyakarta: Yayasan Andi, 1992.
6.      Soedarmo, R. Ikhtisar Dogmatika. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997.
7.      Thiessen, Henry C. Teologi Sistematika. Malang: Gandum Mas, 1992.
8.      Willmington. Eskatologi. Malang: Gandum Mas, 1997.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar